Main Menu
Berita
Arah Dasar Pastoral
Profil
Paroki
Pastoral Kategorial
Komisi
Lembaga
Dokumen
Links


Designed by:
Binus University
Mencicipi Ensiklik “Caritas in Veritate”
Pst. B.S. Mardiatmadja, SJ
Saat Rapat Pastores KAJ di Aula Katedral, Senin (27/7/2009), Pst. B.S. Mardiatmadja, SJ, Penasehat Uskup di Bidang Teologi, mengajak para pastor yang hadir “mencicipi” Ensiklik terbaru dari Bapa Suci Paus Benediktus XVI: “Caritas in Veritate” (Kasih dalam Kebenaran). Ensiklik sosial tersebut diterbitkan 7 Juli 2009.

Dalam kesempatan itu, Pst. Mardi menampilkan sebuah artikel yang dimuat di Mirifica.Net (website berita Konferensi Waligereja Indonesia) berjudul “Lapangan Mencari Arti – Teologi Merefleksi” kiriman Pst. I. Ismartono, SJ. Artikel itu berisi cuplikan dialog antara Pst. Mardi dan Pst Ismartono seputar Ensiklik “Caritas in Veritate” tersebut. [lihat http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=5848]
Website KAJ kali ini menyajikan beberapa kutipan artikel tersebut, pokok-pokok dialog tentang Ensiklik tersebut dalam forum Rapat Pastores, dan menunjukkan kaitan (link) pengunduhan (download) Ensiklik “Caritas in Veritate” dalam berita ini, untuk menyosialisasikan Ensiklik sosial tersebut kepada umat, sekaligus merangsang umat untuk mempelajari dan menggali inspirasi darinya.

Apa yang Baru dari “Caritas in Veritate”?
Menurut Pst. Mardi, ada beberapa hal menarik yang dijumpai dari Ensiklik sosial tersebut.

Pertama, Ensiklik ini menjadi jelas kalau dibaca dalam kaitan dengan tiga tulisan Paus ini yaitu “Deus Caritas Est”, “Spes Salvi” dan “Yesus dari Nasaret”.

Kedua, kata-kata yang dipakai agak lugas ... bahwa ‘cinta tanpa kebenaran akan jadi sentimentil', sedang ‘kebenaran tanpa cinta jadi dingin dan penuh perhitungan sehingga akhirnya kayak dagang'.

Ketiga, tanpa Tuhan, cinta jadi serba itung-itungan karena terus menerus berbatas. Di situ Logos yaitu Tuhan meluaskan cakrawala cinta.

Keempat, di situ Paus mendekatkan ‘etika sosial' dengan ‘etika hidup': ‘yang baik dari sudut kehidupan manusia' itu mempunyai nilai terhadap kebersamaan sehingga ‘yang buruk terhadap hidup' juga merusak hidup sosial. Itulah dasarnya mengapa baginya aborsi merusak sikap dasar manusia terhadap sesama.

Kelima, selain itu, Ensiklik ini secara konkret menyentuh beberapa butir modern seperti keuangan mikro sebagai unsur mendasar hidup bersama masyarakat; hak milik intelektual sebagai bentuk nyata penghargaan martabat manusia; globalisasi dengan potensi baik maupun kemungkinannya membahayakan martabat manusia, khususnya di negara miskin; pembaharuan faham tentang ‘option for the poor' dengan menekankan kesediaan tiap orang Katolik untuk menyediakan miliknya bagi sesama yang ‘kurang berada'. Mengapa? Karena semua yang ada pada kita diberikan secara gratis maka kita harus memberikan secara bebas juga. Sebab semua datang karena cinta Allah.

Mengapa "Populorum Progressio" Disinggung Ulang dalam “Caritas in Veritate”?
Apa kaitan “Caritas in Veritate” dengan “Populorum Progressio” (PP), yaitu Ensiklik Paulus VI tentang perkembangan? Ensiklik ini memang diterbitkan untuk memperingati 40 tahunnya “Populorum Progressio”. Ensiklik ini memandang tema perkembangan PP dalam kaitan dengan Ensiklik lain yang kontroversial yaitu “Humanae Vitae”. Dikatakannya bahwa di mata Paus Paulus VI, hidup perlu dijunjung tinggi pada tahap mana pun. Progress atau development yang benar tak pernah bisa difahami tanpa kaitan dengan si manusia. Development yang membuat manusia rusak itu bukan ‘real progress’.

Maka ekonomi yang mengakibatkan manusia saling membunuh atau suatu suku bangsa merosot, itu bukan ekonomi. Sebab di situ hidup manusia tidak dihargai. Nilai suatu model perkembangan ekonomi terletak pada jawab atas pertanyaan ‘apakah di dalamnya si manusia dihargai lebih daripada modal atau negara?' Suatu masyarakat yang memandang rendah hidup manusia dalam tahap apa pun juga akan melecehkan manusia pada lapisan apa pun; bahkan ia akan meremehkan segala yang hidup. Itulah sebabnya mengapa ia melihat juga kaitan erat sekali antara sikap dasar ini dengan ekologi, yakni hormat terhadap segala yang hidup, bahkan pada seluruh alam semesta.

Di situ ia menunjukkan kegagalan kebudayaan dunia masa kini yang mau menghancurkan hidupnya sendiri habis-habisan dengan melecehkan HAM, hidup manusia pada lapisan apa pun dan segala hidup di alam ini. Itulah sumber segala duka derita budaya, politis, ekonomis, medis dan pribadi banyak manusia masa kini. Ilmu pengetahuan sudah memberi peringatan pada kita mengenai keterbatasan manusia ini. Maka cinta pada manusia dan segala yang hidup erat berkaitan dengan pencarian kebenaran ilmiah yang paling dalam.

Hal baru lain dalam Ensiklik ini adalah penegasan Paus yang menunjukkan kaitan erat antara logika kontrak ekonomis (‘do ut des’: aku beri supaya kau beri) dengan logika koalisi politis (‘aku beri karena kepentingan politis mewajibkan aku memberimu’) dengan menambahkan sikap batin cintakasih (‘aku beri karena aku mencintaimu dan baiklah bahwa aku memberimu’). Dengan kata lain, keuntungan ekonomis dan keuntungan politis tidak memadai untuk membangun persaudaraan manusiawi kalau tidak dilengkapi dengan persaudaraan rohani: karena dasar cinta; dan cinta itu mempunyai implikasi dalam kebenaran-kebenaran ekonomis dan politis.

Karena kaitan itu maka Paus mendukung sekali pengorganisasian buruh agar logika kontrak ekonomi maupun logika koalisi politis diatasi secara struktural melalui proses perundingan konstruktif. Hal itu menuntut bahwa manajemen perusahaan dan pemilik modal mewujudkan rasa tanggungjawabnya dalam mengintegrasikan pekerja di seluruh proses pengambilan keputusan hal-hal yang menyangkut hidup buruh.

Paus juga meneruskan, bahwa pemikiran di atas menuntut kerjasama lintas negara: sebab sekarang ini tidak ada urusan ekonomi dan politis serta ekologis yang seluruhnya dapat diselesaikan tanpa kerjasama internasional. Kerjasama itu tidak mungkin tanpa hubungan tulus dan terbuka. Caritas internasional erat terkait dengan kebenaran internasional: bukan kucing-kucingan. Kerjasama ekonomi dan politik serta kebudayaan internasional dinilai dari sudut: Sejauh manakah mengembangkan kemanusiaan dan sejauh mana tidak malah menyebabkan semakin banyaknya kematian, pelecehan hak azasi manusia, penghancuran ekonomi rakyat miskin serta pemburukan sikap dasar terhadap kesehatan dan hidup manusia.

Jadi Ensiklik ini menegaskan isi PP dan juga membaharuinya. Ia ingin menunjukkan, betapa nilai-nilai rohani mendasari perkembangan sejati ekonomi dan politik serta budaya manusia, juga masa kini dan mendatang. Bila tidak, ekonomi, politik, dan kebudayaan tidak memperkaya manusia dan tidak layak bagi manusia. Paus ingin melihat bahwa caritas itu lebih dari pada sekedar memberi kepada si miskin tetapi yang lebih mendasar lagi: mengakui bahwa semua datang dari cinta Allah. Itulah kebenaran yang terdalam. Jadi ini memang refleksi teologis tentang Keadilan Sosial: mendahulukan si Kecil itu memang bagian dari keharusan ekonomis, hal mutlak dalam kewajiban politis, unsur hakiki dalam kebudayaan tetapi yang terdalam adalah bahwa itu bagian tak terpisahkan dari pengakuan kita atas iman "Kita diciptakan oleh cinta Allah yang serba murah hati dan bahkan ditebus kembali kendati egoisme manusia". Tampak sekali usaha memadukan iman, refleksi teologis dengan kenyataan empirik di dunia ekonomi, politis, internasional dan budaya.

Bagaimana Menyosialisasikannya Sesuai Konteks Umat?
Ketika ditanya hal di atas, Pst. Mardi menjelaskan, alangkah baiknya para pastor mengajak umat mempelajari dan mendialogkan Ensiklik ini sembari mewujudkan karya-karya kasih dalam tindakan-tindakan konkret, misalnya membiayai sekolah anak miskin, mendorong Mudika mendampingi belajar anak-anak keluarga miskin, dsb. Dalam konteks pendidikan, diperlukan penyadaran kepada lembaga pendidikan (yayasan dan sekolah), para pendidik, dan para orang tua agar saling berusaha memahami proses pendidikan para peserta didik, dan bukan sekadar soal biaya pendidikan.

“Jangan-jangan di balik relasi antara yayasan, sekolah, dan orang tua bersembunyi ideologi kapitalisme, yakni pertukaran antara uang dan jasa,” jelas Pst. Mardi. [Felix Iwan Wijayanto]


Link : teks lengkap Ensiklik "Caritas in Veritate"
Last Updated ( Monday, 07 September 2009 )
 
< Prev   Next >
http://kaj.or.id, Copyrighted 2008 KAJ . Designed by BINUS UNIVERSITY
Powered by Joomla!