|
Page 4 of 13
Mgr. Petrus Willekens, SJ - Vikaris Apostolik
1934 - 1952
Beliau lahir di Reusel,dekat perbatasan Selatan Negeri Belanda pada tanggal 6 Desember 1881. Anak seorang kepala dusun ini sejak kecil memang pintar dan sangat menonjol di antara teman-temannya. Bahkan dia yang sepanjang hidupnya selalu tampak agung dan tenang ditunjuk untuk menjadi pemimpin korps musik di Sekolah Apostolik Turnhout.
Petrus Willekens masuk Serikat Yesus. Setelah menyelesaikan studinya, beliau diberi tugas membimbing frater novis yang baru mulai masa percobaan untuk menjadi Yesuit. Setelah melaksanakan tugas selama delapan tahun, beliau diangkat menjadi rektor Sekolah Tinggi Theologia di kota Maastricht, sampai beliau ditugaskan sebagai visitator ke Indonesia. Seorang Visitator diangkat oleh Pater Jenderal Serikat Yesus di Roma untuk mengunjungi dan meneliti karya-karya dan mutu kerasulan di wilayah Serikat Yesus tertentu. Pada tahun 1928 selama sepuluh bulan dengan penuh perhatian beliau meninjau seluruh karya Serikat Yesus di Pulau Jawa sampai ke pelosok-pelosok. Sepulangnya dari Jawa, beliau diutus lagi ke India, Inggris, dan Hongaria dengan tugas yang sama.
Pastor Petrus Willekens, SJ diangkat sebagai Vikaris Apostolik Batavia yang ketujuh pada 23 Juli 1934 oleh Paus Pius XI. Tahbisan uskup beliau dilakukan di Katedral pada tanggal 3 Oktober 1934. Kata-kata Santo Paulus kepada muridnya Timotius "scio cui credidi" atau "aku tahu kepada siapa aku telah mempercayakan diri" menjadi pedomannya.
Di bawah kepimpinan Mgr. Petrus Willekens, SJ ini wilayah Jawa Tengah dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia menjadi Vikariat Apostolik Semarang (1940). Kemudian disusul pemisahan Prefektur Apostolik Sukabumi (1948).
Perubahan besar terjadi pada masa kepemimpinannya. Nusantara berhasil direbut Jepang dari Belanda dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya 17 Agustus 1945. Setelah Belanda menyerah, banyak orang Belanda ditawan pasukan Jepang, termasuk pastor, bruder, dan suster. Berkat kelihaian beliau mengangkat diri sebagai 'Wakil Paus', beliau bersama sekretaris beliau, Pastor L. Zwaans, SJ, tidak turut ditawan sehingga dapat memberikan pelayanan kepada umat. Tanpa memperhitungkan bahaya, beliau sering menghadapi para pembesar balatentara Jepang untuk membela hak asasi manusia. Dan itu tidak terbatas hanya pada orang Katolik saja.
Sekitar pertengahan tahun 1952, beliau dibebastugaskan sebagai Vikaris Apostolik Batavia oleh Sri Paus atas permintaan sendiri dengan alasan kesehatan. Akan tetapi kebanyakan orang yakin bahwa beliau mengundurkan diri dengan alasan-alasan yang lebih luhur: beliau, yang berkulit putih, mundur demi Indonesianisasi Gereja Katolik di Ibukota Republik Indonesia. Beliau memiliki gagasan-gagasan yang sangat luhur. Beliaulah yang mengambil inisiatif untuk memulai sebuah Seminari Tinggi untuk mendidik imam-imam diosesan/praja. Beliau juga mendirikan sebuah tarekat biarawati pribumi. Beliau pulalah yang memberanikan diri mengajukan nama calon Uskup dari generasi pribumi Katolik yang pertama ke Vatikan.
Pada tanggal 27 Januari 1971 beliau wafat di Yogyakarta dalam usia 89 tahun dan dimakamkan di Muntilan.
(Sumber teks: Website Katedral Jakarta http://www.katedraljakarta.or.id. Sumber foto: Adolf Heuken, SJ. 200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta. Cipta Loka Caraka. Jakarta. 2007)
|