|
Sejak Kunjungan Bapak Kardinal di paroki-paroki KAJ tah un 2009 lalu, ungkapan “Pastoral Berbasis Data” mengemuka dalam berbagai pertemuan di KAJ. Begitu penting dan strategisnya hal tersebut, hingga dalam Pastores (pertemuan para pastor) se-KAJ di Aula Katedral (8/2/2010), para pastor belajar bersama tentang pastoral berbasis data Bersama narasumber Pst. S. Gitowiratmo Pr dan Pst. F.A. Purwanto, SCJ, fasilitator Pusat Pastoral Yogyakarta (PPY).
Bukan Hal yang Sulit
Menurut Pst. Gitowiratmo, pastoral berbasis data bukanlah sesuatu yang sulit, namun hanya masalah mindset. Kendalanya selama ini masih ada setup dalam cara berpikir para pastor bahwa segala sesuatu bisa dihadapi tanpa data. “Padahal, kemajuan dunia perlu diikuti dengan peningkatan pelayanan pastoral, dan untuk itu membutuhkan data. Ini soal kinerja kita,” jelas Pst. Gito.
Berpastoral berbasis data memiliki makna bahwa dalam berpastoral, kita harus selalu memahami data situasi umat, baik karakteristiknya, kebutuhannya, maupun tantangan yang mereka hadapi. Praktik pelayanan pastoral yang tidak memperhatikan data situasi umat mirip “pedagang asongan”. “Misalnya, seorang imam, ditugaskan di manapun selalu menawarkan program pastoral yang sama, tidak memperhatikan situasi umat. Padahal setiap mengawali tugas pastoral di tempat baru, seharusnya setiap imam selalu mulai dengan mengenali situasi pokok, melakukan refleksi teologis-pastoral terhadap situasi itu, kemudian dilanjutkan dengan tahap-tahap berikutnya sesuai Spiral Teologi Pastoral,” jelas Pst. Gito.
Berpastoral: Panggilan yang Profesional
Pst. Gito juga mengajak para imam peserta Pastores mencermati buku Etika Pastoral karya Richard M. Gula (2009). Dalam buku tersebut, Richard M. Gula membuka pertanyaan kritis: apa makna tahbisan imamat dan pelayanan berpastoral bagi para imam? Apakah merupakan panggilan saja atau profesi juga?
Bagi banyak pihak, imamat bukan profesi melainkan panggilan, karena panggilan itulah urus-an imam bukan melulu persoalan pekerjaan, melainkan hidup panggilan di mana Tuhan menya-takan diri di dalamnya, menanggapi Allah yang sedang hadir dalam jemaat-Nya.
Namun, menurut Pst. Gito, Richard M. Gula berpendapat bahwa profesi bukan sekadar pekerjaan, tapi kehadiran kita sebagai tanda kehadiran Tuhan di te-ngah komunitas yang menuntut kita semakin profesional dalam melaksanakan panggilan hidup kita. “Maka, selain menjadi pengusaha atau penulis buku, menjadi imam pun bisa profesional. Tidak perlu lagi kita mempertentangkan antara panggil-an dan profesi,” jelas Pst. Gito.
Salah satu indikasi menjalankan panggilan imamat dalam karya pastoral yang profesional adalah berkarya berdasarkan data dan Metode Dinamika Pastoral, agar berpastoral secara bertanggung jawab. “Tahun Imam (Juni 2009 s.d. Juli 2010) bisa dijadikan kesempatan bagus untuk membangun komitmen pelayanan profesional, dalam bingkai mana pastoral berbasis data menjadi penting,” jelasnya. [Felix Iwan Wijayanto] |