Main Menu
Berita
Arah Dasar Pastoral
Profil
Paroki
Pastoral Kategorial
Komisi
Lembaga
Dokumen
Links


Designed by:
Binus University
Pendampingan PRT Perlu Cermati Masalah Budaya
Dalam Temu Kategorial KAJ di Aula Katedral (31/1/2010), Maria Yohanita, wakil kelompok Mitra IMADEI yang concern dalam masalah PRT, mengeluhkan begitu sulitnya orang Katolik memberikan ruang sosial kepada PRT-nya. “(Padahal) Mitra IMADEI awalnya mau membangun habitus baru di dalam membangun komitmen bersama (mulai dari umat Katolik),” jelasnya.
Mgr. Suharyo, Uskup Agung Koajutor KAJ yang hadir dalam pertemuan tersebut,,berpendapat bahwa di sekitar masalah PRT terdapat banyak masalah yang lain yang ikut berpengaruh, misalnya dari masalah budaya. “Masyarakat kita, mau tidak mau, sering disebut masyarakat feodal. Masyarakat feodal itu salah satu cirinya, sadar atau tidak sadar, berpikirnya adalah saya tuan dan yang lain adalah pembantu. Kalau kita masih terhambat oleh cara berpikir seperti ini, pasti tidak akan mudah membantu saudara-saudara kita yang bekerja sebagai PRT untuk mengembangkan diri sebagai pribadi yang semakin kaya,” jelas beliau.

Dalam konteks hidup menggereja sebagai umat Katolik, lanjut Mgr. Suharyo, perlu dipertanyakan apakah kita terpanggil untuk menghargai orang lain tanpa memandang status sosialnya, namun menyadari martabatnya sebagai pribadi manusia yang adalah citra Allah. “Ini kelihatannya sudah seribu sekian kali dikatakan atau kita dengar atau kita sendiri mengatakannya. Tetapi di belakang kata-kata yang bagus itu, yang namanya orang berpikir tidak sadar karena budaya, itu lebih dominan dan lebih berpengaruh,” ujar beliau.

Maka, selain mendampingi dan memberdayakan PRT, Mgr. Suharyo menganjurkan perlunya ditempuh cara-cara lain yang menyadarkan keluarga-keluarga Katolik untuk bersikap secara Kristiani kepada PRT-nya. Beliau mengilustrasikan sebuah keluarga yang mendidik anak-anaknya untuk menghormati PRT di rumahnya. Dengan sadar keluarga itu melarang anak-anak untuk menyuruh atau memerintah PRT, tapi mengajari anak-anak itu untuk meminta tolong kepada PRT, benar-benar memulai dengan kata “Tolong ....” dan mengakhiri dengan ucapan “Terima kasih ...”. Kalau anak itu dinilai bersikap kasar terhadap PRT, anak itu disuruh minta maaf kepada PRT-nya.

“Seandainya keluarga-keluaraga Katolik mempunyai keyakinan seperti itu, mudah membantu mereka untuk berkembang. Tetapi ketika yang masih dominan adalah budaya feodal apalagi merasa dirinya mempunyai status sosial yang berbeda, dia adalah pembantu, saya adalah tuan, memang menjadi sangat sulit. Itu proses yang menurut saya tidak akan pernah selesai. Terus-menerus harus dilaksanakan, dicoba untuk diusahakan,” tegas Mgr. Suharyo. [Sumber: Notula Pertemuan oleh XAXA Documentation]
Last Updated ( Saturday, 06 February 2010 )
 
< Prev   Next >
http://kaj.or.id, Copyrighted 2008 KAJ . Designed by BINUS UNIVERSITY
Powered by Joomla!